06/12/2010 - 12:21
Setiap manusia Allah berikan kelebihan dan kekurangan, tidak ada manusia yang seutuhnya sempurna. Dari situ jugalah kita bisa mengacu bahwa semua kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri manusia merupakan kuasa dan kehendak Allah Swt.
Kelebihan dan kekurangan yang Allah titipkan kepada kita itu dapat berupa fisik, materi, kedudukan, jabatan, keturunan dan lain-lain. Allah Swt. sendiri telah menyebutkan bahwa manusia diciptakan beragam, hal ini dengan tujuan agar dapat saling mengenal.
”Hai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam AS) dan seorang perempuan (Siti Hawa), kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Al Hujuraat, 13).
Kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita merupakan nikmat. Dan nikmat-nikmat itu sendiri bisa menjadi ujian dan cobaan bagi yang memilikinya.
Dalam konteks ujian, kelebihan yang kita miliki dapat berubah menjadi positif atau negatif. Jika kelebihan yang kita miliki menjadikan kita sombong, angkuh, meremehkan orang lain, menzhalimi orang lain, maka justru kelebihan itu akan membinasakan diri kita sendiri. Lain halnya jika kelebihan yang kita miliki dapat membuat kita menjadi lebih bersyukur, lebih taat kepada Allah serta memanfaatkannya secara luas untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain, maka kelebihan tersebut bersifat positif karena kita mampu mengelolanya dengan baik.
Salah satu kelebihan yang merupakan ujian bagi manusia adalah keturunan yang bagus atau mulia. Ini masih dapat kita temui di masyarakat, dimana banyak mereka yang merasa dirinya lebih mulia karena berasal dari keturunan yang bagus atau mulia dan kemudian menganggap orang lain tidak sebanding dengannya. Seperti cerita dari teman saya berikut ini:
Saya kenal cukup baik dengan teman yang satu ini. Dia sering bercerita tentang kehidupan pribadinya dan cukup terbuka dalam menceritakannya.
Sekitar akhir tahun lalu dia mengenal seorang pria lewat sebuah situs pertemanan di Internet. Si pria berusia 5 tahun lebih muda dibanding dia, dan tinggal di Jerman.
Awalnya ia tidak terlalu merespon usaha dari si pria yang mencoba mendekatinya itu. Tapi lama kelamaan karena usaha dari si pria yang sangat gigih, hatinya pun luluh dan mau menerima si pria.
Dalam proses pengenalan, mereka saling bercerita juga tentang keluarga masing-masing. Si pria menyebutkan tentang keluarganya yang berasal dari keluarga pesantren dan lingkungan yang agamis, bahkan dia sebutkan juga tentang Mbah-mbah dan saudaranya yang terbilang memiliki beberapa pesantren besar dan cukup terkenal di Jawa. Sedangkan teman saya ini berasal dari lingkungan keluarga yang terbilang biasa saja tapi pribadinya baik dan cukup menyenangkan.
Si pria saat ini sedang menimba ilmu di Jerman, melanjutkan S2. Keluarganya pun tinggal di Jerman, hanya di kota yang berbeda.
Saat proses awal, teman saya itu pernah memberi tahu perihal ganjalan di hatinya. Dia merasa bahwa keluarga dari si pria sering menyebutkan tentang kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Namun saat itu saya beri masukan, kalau seandainya mereka tidak mempermasalahkan soal itu ya tetap saja dijalani.
Selang beberapa bulan kemudian, ketika hubungan cinta mereka semakin erat, ternyata terbukalah semua. Ternyata selama ini hubungan cinta mereka ditentang keras oleh orang tua si pria. Usut punya usut, keluarga si pria mempermasalahkan teman saya yang menurut mereka 'bukan keturunan siapa-siapa'.
Dalam sebuah e-mail, kakak perempuan si pria mengirimkan pesan agar teman saya menjauhi adiknya dengan tambahan embel-embel "Apa kamu engga tahu Mbah-Mbahnya dia itu turunan siapa?" dan satu lagi yang oleh kakak perempuannya dipermasalahkan adalah usia teman saya yang jauh lebih tua.
Karena perasaan perempuan yang lembut, teman saya pun menceritakan perihal apa yang ia alami. Dia bercerita hatinya begitu sakit karena merasa diremehkan, padahal menurutnya sebenarnya bukan dia yang menggebu-gebu mengejar si pria tersebut.
Kakak perempuan dari si pria dalam pesannya memberikan catatan bahwa apa yang ia kirimkan itu adalah atas perintah ibunya dan representasi dari keluarga besarnya yang tidak menyukai teman saya. Dia mengatakan bahwa adiknya telah mempunyai calon istri yang sudah ditetapkan dari dulu, yaitu seorang santriwati dari daerah asalnya.
Kini hubungan teman saya dan pasangannya menjadi goyah karena masalah tersebut.
Dalam cerita di atas, si keluarga besar pria merasa bahwa mereka memiliki kelebihan-kelebihan dan kemudian karena merasa 'lebih' maka mereka meremehkan orang lain yang dianggap tidak sebanding/sederajat.
Kisah yang dialami teman saya di atas mungkin banyak terjadi di lingkungan kita. Boleh jadi karena kita memiliki paras yang tampan/cantik, harta benda yang berlimpah, keturunan yang bagus atau mulia, pangkat dan jabatan yang tinggi atau ilmu yang tinggi, lalu kita menganggap bahwa kita lebih dari orang lain dan hingga sampai meremehkan. Disinilah kaitannya bahwa kelebihan-kelebihan yang kita miliki merupakan ujian bagi diri kita sendiri, jika kita sombong maka kita tidak lolos, tetapi jika kita mampu bersyukur serta bersikap tidak sombong atas setiap kelebihan yang kita miliki maka kita bisa disebut lolos.
Setiap kelebihan atau keutamaan yang telah Allah berikan kepada kita seyogyanya kita sadari bahwa itu merupakan anugerah, bukan untuk disombong-sombongkan hingga sampai meremehkan orang lain. Bahkan ketika kita merasa lebih utama/mulia karena sudah menjadi seseorang yang rajin melakukan amal ibadah, itu sendiri pun sebenarnya tidak akan banyak berarti karena kita tidak pernah tahu apakah Allah sudah menerima atau belum amal ibadah kita tersebut.
Seperti dalam cerita di atas yang sudah menonjolkan kelebihan dari segi keturunan, padahal yang lebih bijak adalah bukan mereka yang membangga-banggakan keturunan/leluhurnya, tetapi mereka yang dapat dibanggakan oleh keturunan/leluhurnya. Apalah artinya keturunan yang bagus/mulia sedang kita sendiri hanya bisa membangga-banggakan tanpa pernah bermaksud mencontoh/meneladani leluhur kita yang mulia itu.
Semoga Allah swt. menjadikan kita hamba yang menyadari bahwa segala kelebihan yang telah Allah berikan merupakan titipan sekaligus anugerah dan semoga Allah tidak menjadikan kita sombong karenanya.
- jafar's blog
- Add new comment
- 504 reads


Sering kali kelebihan yang
Sering kali kelebihan yang Allah berikan kepada kita membuat diri ini menjadi merasa berlebih, ini malah menibulkan efek negatif untuk diri kita. salam sehat selalu