06/28/2010 - 11:48
Banyak orang mengatakan bahwa belajarlah dari sejarah masa lalu karena disana ada banyak pembelajaran dan hikmah yang dapat kita petik. Sejarah selain mengandung banyak pembelajaran, juga sering dapat terulang dengan sendirinya.
George Santayana, seorang penulis Amerika kelahiran Spanyol, pernah mengatakan: "Progress, far from consisting in change, depends on retentiveness. Those who cannot remember the past are condemned to repeat it." Walaupun banyak yang menafsirkan, namun saya sendiri menangkap maknanya bahwa ingatlah masa lalu dan belajarlah dari situ untuk menjadi lebih baik sehingga tidak terulang kembali.
Kasus yang banyak terjadi adalah kita seringkali hanya menjadikan sejarah dari setiap kejadian yang telah terjadi sebagai sebuah kumpulan informasi saja. Kita jarang menengok sejarah yang sudah terjadi dan menjadikannya sebagai pelecut untuk memperbaiki apa-apa yang kurang.
Coba tengok kasus yang terjadi pada pertandingan sepakbola tadi malam antara Jerman vs Inggris. Sebuah tendangan yang dilesakkan oleh pemain tengah Inggris, Frank Lampard, mengenai mistar gawang atas kemudian memantul ke bawah. Pemain Inggris mengira bahwa sudah terjadi gol namun hakim garis serta wasit menganggap serta memutuskan bahwa tidak ada gol karena menurut pengamatan mereka bola memantul tepat di garis gawang. Buat mereka yang menonton dapat melihat dengan jelas dalam tayangan ulang bahwa pantulan bola sebenarnya sudah melewati garis gawang.
Kasus yang terjadi tadi malam mirip dengan kejadian serupa di Piala Dunia tahun 1966. Namun bedanya ketika itu justru semestinya tidak gol malah menjadi gol.
Di babak final Piala Dunia 1966 yang berlangsung di stadion Wembley, Inggris menghadapi Jerman Barat. Saat itu kedudukan akhir di waktu normal sama kuat 2-2 sehingga pertandingan harus dilanjutkan dengan tambahan waktu ekstra. Dan saat perpanjangan waktu itulah terjadi gol kontroversial yang sampai dengan sekarang masih sering diulas.
Geoff Hurst, penyerang Inggris, melesakkan tendangan dari jarak yang tidak begitu jauh dari gawang Jerman Barat. Bola tendangannya memantul mengenai mistar gawang dan terus ke bawah. Ketika itu penjaga garis dan wasit memutuskan sudah terjadi gol. Dalam tayangan ulang televisi, terlihat bola memantul tepat di garis gawang. Namun apa mau dikata, sang pengadil di lapangan sudah memutuskan bahwa terjadi gol dan Jerman Barat harus menerima keputusan tersebut.
Gol kontroversial pada Piala Dunia tahun 1966 sekarang terulang kembali. Dengan menimpa tim yang sama, hanya berbeda nasib saja :D. Banyak pengamat yang menyebut kejadian tadi malam sebagai 'kutukan' atau 'karma' Piala Dunia tahun 1966.
Terlepas dari aturan FIFA yang sampai dengan detik ini tidak akan menggunakan bantuan teknologi dalam menentukan sahnya gol atau tidak, tetapi memang sepertinya kasus gol kontroversial ini harus segera dibenahi agar tidak terulang kembali di masa yang akan datang. Ada juga usulan lain yang 'lebih manusiawi', seperti menambahkan 2 penjaga garis lagi di garis belakang sehingga para penjaga garis itu dapat melihat dengan lebih dekat dan lebih jelas apa saja yang terjadi di dalam kotak penalti. Namun usulan itu sampai sekarang belum juga terealisasi.
Sejarah mengajarkan kita untuk memperbaiki sesuatu yang kurang dan sudah saatnya bagi FIFA selaku wadah otoritas tertinggi sepakbola di dunia membuat aturan yang dapat mencegah gol kontroversial seperti yang tadi malam terulang kembali.
Belajarlah dari masa lalu...
- jafar's blog
- Add new comment
- 203 reads


Komentar Terbaru