03/13/2010 - 07:44
Suatu hari almarhumah ibu saya pernah berkata, "Itu anaknya si anu baru kerja 2 tahun sekarang sudah punya mobil." Jika ada ungkapan model seperti ini saya selalu jawab, "Ya Alhamdulillah atuh, mungkin bagus rezekinya."
Ungkapan yang dilontarkan oleh almarhumah ibu saya itu mungkin tujuannya selain 'menyindir' saya yang sudah bekerja lebih lama tapi belum bisa seperti itu atau bisa jadi juga merupakan wujud keheranan dia terhadap anaknya si anu yang cepat sekali memiliki mobil.
Ungkapan di atas mungkin juga pernah dialami oleh sebagian dari kita, dimana ukuran sukses tidaknya seseorang hanya diukur dari seberapa banyak dan seberapa cepat dia dalam mengumpulkan materi/harta benda.
Tidak bisa dipungkiri, di zaman sekarang ini agaknya sebagian dari masyarakat kita sudah menilai sesuatu dari kacamata materi dan juga hanya melihat sesuatu dari hasil akhirnya saja, tanpa mempedulikan prosesnya seperti apa.
Teman kerja saya pernah bercerita tentang teman-temannya di waktu kuliah yang setelah hampir sepuluh tahun tidak bertemu yang kini sudah memiliki jalur kehidupannya masing-masing.
Dia bercerita ada satu orang temannya, saya sebut saja si A, yang secara otak sangat cerdas dan bahkan lulusan terbaik di tahun itu dengan IPK 4,00. Saat itu kebanyakan sudah memperkirakan bahwa si A ini akan mampu menjadi orang yang 'sukses', karirnya gemilang dan segala macam. Si A ini menurut teman saya adalah sosok yang pendiam, lurus-lurus saja, tidak banyak tingkah dan terlihat 'culun'. Prediksi teman-teman si A ternyata salah besar, setelah sepuluh tahun berlalu teman saya baru tahu tentang kabar dia lewat Facebook, kini si A bekerja di salah satu bank negeri di bagian administrasi biasa. Siapa sangka si A yang dulu diprediksi bisa sukses sekarang cuma menjabat pegawai biasa di sebuah bank negeri, itu pun belum pengangkatan :D.
Selain bercerita tentang si A, teman saya juga bercerita tentang temannya yang lain, saya sebut saja si B. Teman saya kenal baik dengan si B, karena dulunya merupakan teman satu perjuangan di dalam contek mencontek saat ujian :D. Si B ini anak orang berada dan saat lulus pun nilainya boleh dibilang pas-pasan. Sekarang si B sudah kembali ke almamaternya dan menjadi dosen di kampus dulu dia kuliah. Usut punya usut ternyata si B melanjutkan kuliah S2 di Australia dengan biaya didapat dari orang tuanya dan saat ini sedang mengambil S3 di tempat dia mengajar. Hebatkah atau musibahkah jika kita lihat perjalanan hidup si B ini? Yang pasti teman saya bercanda bahwa dia sudah tahu seperti apa si B itu luar dalam, jadi katanya bakal pikir-pikir dua kali untuk memasukkan anaknya kelak ke kampus tempat dimana si B mengajar.
Bagi orang yang tidak mengenal si A dan si B secara langsung tentu hanya akan melihat hasilnya seperti sekarang ini saja. Mereka mungkin akan mengambil kesimpulan bahwa si A ini apes, kurang gesit dalam bekerja sehingga jabatannya tidak naik-naik dan si B itu beruntung, pandai memanfaatkan kesempatan sehingga bisa sukses. Kesimpulan-kesimpulan seperti itu akan muncul manakala ukuran yang digunakan dalam menilai seseorang adalah materi/harta dan hasil semata.
Karena boleh jadi walaupun si A ini tidak memiliki jabatan tinggi dan harta yang banyak tapi dalam proses hidupnya dia adalah seorang pegawai yang giat, lurus, tidak mau menerima suap dan sebagainya. Begitu juga dengan si B, kita tidak tahu proses dia sampai bisa seperti sekarang ini bagaimana.
Jangan pernah silau atau iri dengan materi/harta benda yang dimiliki oleh orang lain, itulah salah satu prinsip yang mestinya kita kedepankan ketika hidup di zaman sekarang ini yang agaknya hampir semua hal ditimbang dari kacamata materi dan hasil yang diraih.
Semoga Allah Swt. memberikan kita hati yang bersih dalam menilai sesuatu.
- jafar's blog
- Add new comment
- 259 reads


o
Kebanyakan dari kita emang melihat akhirnya bukan prosesnya, aku masih sering melakukannya. Namun, akan senang rasanya jika si empunya menceritakan pengalamannya mengikuti proses menjadi sukses itu. Soalnya banyak temanku yang dulu biasa sekarang jadi sukses. Jadi banyak pelajaran yang bisa diambil