12/07/2009 - 22:28
Sesuatu yang menjadi takdir Allah Swt. itu ada empat; kenikmatan, kesengsaraan, kebaikan dan keburukan.
Terhadap kenikmatan, si hamba harus menerimanya dengan lapang dada. Penerimaan itu diwujudkan dalam bentuk kerelaan atas takdir Allah Swt. dan apa yang sudah menjadi ketetapan baginya, serta bersyukur kepada Sang Pemberi takdir (Allah). Sedapat mungkin segala nikmat yang diberikan-Nya dipergunakan untuk berbuat kebaikan, dan bukan kemaksiatan.
Adapun terhadap kesengsaraan, si hamba harus menerimanya pula, karena bisa jadi kesengsaraan itu lebih baik bagi dirinya. Di samping itu, ia harus bersabar atas kesengsaraan yang baru menimpanya.
Terhadap kebaikan, ia diharuskan menerimanya dan berterima kasih kepada Sang Pemberi takdir, di samping juga harus mengingat pemberian itu. Karena pemberian yang berupa kebaikan itu lebih pantas bagi dirinya.
Walaupun si hamba tertimpa takdir yang berupa keburukan, namun ia harus tetap menerimanya dengan lapang dada dan berterima kasih kepada-Nya. Qadha yang berupa keburukan itu bukan berarti buruk. Pada hakikatnya, keburukan kembali kepada takdir itu sendiri dan Sang Pemberinya.
Nasihat Imam Ghazali dalam kitab Minhaajul 'Abidin Ilal Jannah
- jafar's blog
- Add new comment
- 449 reads


semoga
Tetapi banyak orang yang tak bisa sabar dalam menghadapi kesengsaraan, banyak yang bunuh diri. Semoga kita terhindar dari hal demikian.
Takdir
Bicara takdir adalah bicara tentang kekuasaan ALLAH, menyadarkan kita bahwa ALLAH maha mengatur hidup kita, seberapapun hebatnya rencana manusia akan gugur oleh rencana ALLAH, buruk dan baik adalah bagian dari takdir yang harus kita yakini bahwa apapun yang terjadi itu karena ALLAH mencintai ciptaannya.
ALLAH tak pernah mendhzalimi umatnya :) one thing for sure.