05/28/2010 - 21:42
Suatu ketika Ibrahim bin Adham bertemu Syaqiq Al-Bulkhi di Makkah, lalu ia berkata kepadanya: “Apa yang membuat Anda sampai di tempat ini, dengan kondisi begini?”
Dia menjawab: “Ketika aku berjalan melewati suatu padang ke padang yang lain yang sangat luas, aku melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya dan berdiam diri tak berdaya di tengah-tengah padang itu. Aku memperhatikannya, karena ingin mengetahui dari mana ia mendapatkan rizki sebagai makanannya.
Maka aku duduk tidak jauh darinya, tiba-tiba aku melihat seekor burung datang dengan membawa belalang di paruhnya, lalu burung yang datang itu menyiapkan belalang tersebut pada paruh burung yang patah kedua sayapnya.
Lalu aku berkata pada diriku sendiri: ”Betapa burung yang tidak berdaya itu mendapatkan rizki atas kemaha murahan Tuhan. Maka Tuhan Yang Maha Pemurah itu, tentu akan memberikan rizki kepadaku atas kemaha kuasaan-Nya, di manapun aku berada. Itulah sebabnya, maka aku meninggalkan pekerjaanku, lalu menyibukkan diri hanya untuk beribadah di tempat ini.”
Ibrahim bin Adham berkata: ”Mengapa Anda tidak menjadikan diri Anda seperti burung sehat yang datang membawakan makanan kepada burung yang cacat dan tidak berdaya itu, sehingga Anda menjadi orang yang lebih baik? Tidakkah Anda mendengar Nabi Muhammad saw. bersabda:
”Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
Di antara tanda orang yang beriman ialah mencari dan memilih yang lebih tinggi dari dua derajat, dari segala persoalan yang dihadapinya, sehingga ia dapat mencapai tempat dan kedudukan yang terbaik.”
Lalu Syaqiq Al-Bulkhi memegang tangan Ibrahin bin Adham dan menciumnya. Ia berkata: ”Anda adalah guru kami, wahai Aba Ishaq.”
- jafar's blog
- Add new comment
- 453 reads


Komentar Terbaru