05/29/2009 - 14:20
Nabi Musa sangat pemalu, dan malu adalah akhlak yang mulia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lebih malu daripada perawan di tendanya, dan beliau memuji rasa malu dalam sabdanya, "Rasa malu itu semuanya baik."
Di kalangan Bani Israil orang laki-laki diperbolehkan mandi dengan telanjang, sebagian melihat kepada sebagian yang lain. Tetapi Musa hanya mandi sendirian, karena rasa malunya yang besar. Dia tidak mau menampakkan kulit tubuhnya dan auratnya.
Orang-orang bodoh di kalangan Bani Israil lalu menebar gosip. Tidak ada yang selamat dari gosip orang-orang seperti ini, bahkan para Nabi dan Rasul sekalipun. Kata mereka – secara dusta lagi palsu – bahwa sebab tertutupnya Nabi Musa dari mereka adalah adanya cacat di tubuhnya yang disembunyikan olehnya, bisa jadi kedua buah pelirnya yang besar atau penyakit kulit (sopak) yang menurut orang- orang sangat menjijikkan atau cacat lain yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Jelas, tuduhan dusta ini menyakiti Nabi Musa dan Allah Swt. tidak rela hal itu terjadi pada Utusan-Nya. Gosip busuk seperti ini bisa mengurangi kepercayaan pada orang yang diangkat oleh Allah sebagai Rasul. Seorang Rasul di mata manusia haruslah tampil sebagai contoh sempurna yang tak ada yang menodainya. Tidak pada bentuk ciptaannya dan tidak pula pada perilakunya.
Allah berkehendak membebaskan Nabi Musa dari tuduhan dusta yang dialamatkan kepadanya oleh orang-orang pendusta dan bodoh. Suatu hari Nabi Musa pergi mandi sendiri seperti biasanya. Nabi Musa meletakkan bajunya di atas batu. Ketika Nabi Musa selesai mandi, dan dia ingin mengambil bajunya, batu itu terbang membawa bajunya. Padahal batu itu tidak memiliki kemampuan untuk bergerak, apalagi terbang. Batu adalah benda mati, tetapi Allah membuatnya bisa terbang dengan cara yang tidak kita ketahui demi hikmah yang diinginkan-Nya, yaitu membebaskan Nabi Musa dari gosip buruk yang ditujukan kepadanya.
Kejadian tiba-tiba ini mengejutkan Nabi Musa, maka dia berlari mengejar batu sambil memanggilnya, "Bajuku, wahai batu. Bajuku, wahai batu." Batu itu membawa pergi pakaian Nabi Musa, sebuah pemandangan yang unik. Nabi Musa seorang Nabi yang mulia, seorang pemalu yang terhormat berlari dengan telanjang mengejar batu yang membawa bajunya. Hingga ketika batu itu sampai di permukaan Bani Israil, mereka melihat Nabi Musa yang sehat dan sempurna, tanpa cacat. Luruhlah kebohongan yang dihembuskan oleh orang-orang bodoh. Batu itu berhenti. Nabi Musa mengambil pakaiannya dan memakainya. Nabi Musa mengambil tongkatnya. Dia memukuli batu itu seperti orang yang sedang kesal dan marah terhadap seseorang yang durhaka, lalim lagi bengal.
Nabi Musa menyadari bahwa yang dipukulnya adalah batu, tetapi ia telah melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukan oleh batu. Maka, Nabi Musa melakukan padanya perbuatan yang tidak dilakukan kepada batu. Nabi Musa memukulnya dengan pukulan orang yang mendidik. Yang unik adalah, tongkat Nabi Musa yang terbuat dari kayu itu bisa berbekas di batu yang keras. Terdapat bekas-bekas pukulan tongkat Nabi Musa di batu tersebut sebanyak pukulan yang diberikan oleh Nabi Musa. Biasanya tongkat kalah dengan batu, karena batu lebih keras dari kayu. Dan yang sering terjadi adalah, tongkat akan patah jika kamu memukulkannya ke batu. Akan tetapi, tongkat Nabi Musa bukan sembarang tongkat, ia diberi banyak kelebihan, dan salah satunya yaitu bisa meninggalkan bekas di batu sebanyak enam atau tujuh bekas pukulan.
Allah telah mengisyaratkan kejadian ini dalam kitab-Nya dengan firman-Nya, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." (QS. Al-Ahzab: 69)
Kisah di atas bersumberkan dari:
1. Hadis ini dalam Shahih Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya’, 6/436, no. 3404. Riwayat kedua oleh Bukhari dalam Kitabul Ghusli, bab orang mandi telanjang, 1/385, no. 278.
2. Riwayat ketiga dalam Bukhari dalam Kitab Tafsir, bab "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa" (QS. Al-Ahzab: 69), 8/534.
3. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabul Fadhail, 4/1841, bab keutamaan-keutamaan Musa; juga dalam Kitabul Haid, bab boleh mandi telanjang sendirian, 1/267, no. 339.
- jafar's blog
- Add new comment
- 883 reads


malu ah...qeqeqe....
malu ah...qeqeqe.... :)
Subhanallah..Allah Yang Maha Berkehendak..segalanya mungkin ya mas...segalanya mungkin jika Dia berkendak...Subhanallah
Musa
bagi saya suatu keanehan kalau allah membuat mujijat yangmempermalukan seorang nabi dengan memperlihatkan kemaluannya....patut direnungkan ...
Pemalu
Saya pemalu gak yah? semoga gak malu maluin ...
kalo di jaman sekarang malah
kalo di jaman sekarang malah banyak yang ndak tau malu. hehehe
Kalo zaman sekarang banyak
Kalo zaman sekarang banyak yang nyanyi dipanggung da pake baju taiyeu.