01/07/2010 - 23:55
Pada zaman dahulu ada seorang 'abid (hamba Allah yang ahli ibadah) dari kalangan Bani Israil yang mempunyai banyak keluarga.
Suatu ketika ia dilanda krisis ekonomi, sehingga kondisinya benar-benar memperihatinkan dan kritis. Lalu istrinya disuruh untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan oleh keluarganya.
Si wanita itu kemudian pergi mendatangi rumah saudagar kaya raya untuk mendapatkan makanan bagi keluarganya. Setelah ia mengutarakan maksud kedatangannya, saudagar yang kaya raya itu kemudian berkata: "Baiklah, asal kamu mau menyerahkan tubuhmu kepadaku." Mendengar jawaban itu, wanita tersebut menjadi terpaku diam membisu, lalu dia memutuskan untuk kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, anak-anaknya yang kelaparan, merintih pedih, sambil memanggil-manggil: "Ibu, ibu, kami sudah sangat kelaparan, kami sudah hampir mati karena tak kuat menahan rasa lapar. Berilah kami apa saja yang bisa kami makan!"
Mendengar rintihan dan tangisan anak-anaknya yang menyayat hati, sang ibu memutuskan untuk kembali kepada saudagar yang kaya raya itu dan menceritakan kondisi kritis yang melanda keluarganya.
"Apakah Anda bersedia memenuhi keinginanku?" Tanya saudagar.
Mulut wanita itu menjadi terkatup, seakan terkunci untuk menyatakan iya, namun dengan berat hati dan amat terpaksa dia menganggukkan kepalanya.
Ketika saudagar itu hanya berdua dengannya, semua persendian wanita itu menjadi bergetar, seakan semua anggota tubuhnya mau terlepas dari tempatnya.
Saudagar itu bertanya: "Ada apa dengan Anda ini, mengapa tubuh Anda bergetar?"
"Sungguh aku takut kepada Allah", jawabnya singkat.
Saudagar berkata: "Anda dengan kondisi yang demikian kesulitan dan kefakiran yang amat kritis seperti ini masih merasa takut kepada Allah, semestinya aku harus lebih takut kepadaNya daripada Anda."
Maka kemudian saudagar itu memenuhi kebutuhan yang diperlukan wanita itu, lalu ia meninggalkannya. Wanita itu lalu pulang dengan membawa banyak makanan untuk keluarganya, sehingga bergembiralah mereka.
Kemudian Allah Swt. memberikan wahyu kepada Nabi Musa As.: "Hai Musa, katakanlah kepada si Fulan bin Fulan, seorang saudagar yang kaya raya itu, bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosanya."
Maka datanglah Nabi Musa As. menemui saudagar itu dan berkata: "Hai si Fulan, apa yang telah Anda perbuat terhadap Tuhanmu sehingga Ia menurunkan wahyu kepadaku agar aku menemuimu?" Lalu saudagar bercerita kepada Nabi Musa As. mengenai kisah antara dirinya dan wanita tersebut.
Setelah saudagar selesai bercerita, Nabi Musa As. berkata: "Sesungguhnya Allah Swt. telah benar-benar mengampuni dosa-dosa Anda yang telah lalu."
- jafar's blog
- Add new comment
- 233 reads


Masya Allah, lama saya tidak
Masya Allah, lama saya tidak bersilaturahmi ke blog Kang Jafar. Saya tidak tahu jika ada tulisan ini. Saya juga barusan posting tulisan yang hampir sama dengan tulisan Kang Jafar. Kalo saya tahu, antum sudah menulis tema yang sama, tentu saya tidak akan menuliskannya lagi. Khawatir saya dituduh melakukan plagiasi atau duplikasi.
Re:
Ya engga apa-apa kali Kang. Saya udah lihat tulisannya dan beda koq. Seandainya sama pun kan kemungkinan karena sumbernya sama, yaitu dari kitab klasik :). Ga ada masalah koq :)